22 June 2006…

Oleh DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, Tinggal di Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/13/metro/2728551.htm

Sejak 50 tahun lalu, berdasarkan SK tertanggal 23 Februari 1956 yang
dibuat oleh Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja, hari lahir
Jakarta ditetapkan pada 22 Juni 1527. Yang menjadi dasar penetapannya
adalah penelitian Prof Soekanto sebagaimana diuraikan dalam bukunya
Dari Djakarta ke Djajakarta (1954).

Meskipun Soekanto mengatakan, "Sayang sekali harinya yang sungguh-
sungguh, kita tidak dapat menemukannya, sedangkan tahunnya agak pasti
diketahui berkat hasil penyelidikan ahli- ahli sejarah," tetapi
penetapannya sudah telanjur diputuskan badan legislatif.

Soekanto mengawali penelitiannya dengan beranggapan bahwa pada 21
Agustus 1522 diadakan perjanjian persahabatan antara Portugis dan
Raja Sunda untuk mendirikan benteng di Kalapa (Sunda Kelapa).

Kemudian pada 1526 datang sepasukan armada Portugis untuk membangun
benteng itu. Sesudah ekspedisi diselesaikan pada akhir 1526, armada
Portugis berlayar ke Sunda.

Karena diterjang badai, sebagian pasukan terdampar dekat Kalapa. Pada
saat bersamaan, Kalapa baru saja dikuasai tentara Muslim pimpinan
Faletehan. Rupanya Faletehan menganggap armada Portugis adalah musuh
besar sehingga semuanya dibunuh kaum Muslim itu. Kemudian Faletehan
merebut kota ini dari kekuasaan Raja Sunda, sahabat orang Portugis
tersebut.

Atas dasar beberapa data sejarah itulah Soekanto "mengutak-atik"
bahwa pembunuhan oleh Faletehan dilakukan pada awal Maret 1527.
Berkat kemenangannya itu, Faletehan mengganti nama Sunda Kelapa
menjadi Jayakarta (=kemenangan yang sempurna).

Soekanto kemudian berupaya mencari tahu kapan peristiwa itu terjadi.
Dalam analisisnya dia menggunakan penanggalan Islam, bukan
penanggalan Hindu- Jawa seperti yang digunakan para pakar sebelumnya.

Akhirnya berdasarkan pranatamangsa, yakni penanggalan yang ada
hubungannya dengan pertanian, ia menyimpulkan, nama Jayakarta
diberikan pada "tanggal satu mangsa kesatu", yaitu pada 22 Juni 1527.
Tanggal itu dianggap berhubungan erat dengan masa panen.

Namun, pendapat Soekanto itu kemudian mendapat tentangan dari Prof
Hoesein Djajadiningrat. Dalam artikelnya "Hari Lahirnja Djajakarta"
(Bahasa dan Budaya, V (1), 1956, hal 3-11), Hoesein meragukan tanggal
tersebut. "Apa ‘tanggal satu mangsa kesatu’ tahun 1527 jatuh pada 22
Juni seperti tahun 1855?" begitu pendapatnya.

Menurut Hoesein, perhitungan tahun yang terdiri atas 12 mangsa untuk
keperluan petani adalah berdasarkan peredaran bintang Weluku dan
bintang Wuluh. Jadi, "tanggal satu mangsa kesatu" harusnya paling
tidak jatuh pada 12 Juli. Tepatnya menurut bintang Wuluh jatuh pada 9
Juli, sementara menurut bintang Weluku pada 17 Juli.

Kekeliruan, menurut Hoesein, juga dilakukan Soekanto terhadap mangsa
panen. JLA Brandes, seperti yang dia kutip, menghitung bahwa mangsa
panen berlangsung pada 12 April- 11 Mei, sedangkan Tjondronegoro
mengemukakan 25 Maret-17 April atau 18 April-10 Mei.

Hoesein bahkan mempertanyakan tarikh Islam yang sudah dikenal di Jawa
pada 1526 atau 1527 M, seperti yang digunakan Soekanto dalam
memberikan pendapat. "Bukankah tarikh Islam mulai dipakai di Jawa
atas perintah Raja Mataram Sultan Agung pada 1633 M?" begitu Hoesein
mengomentari Soekanto.

Hoesein lalu menyimpulkan bahwa pergantian nama Sunda Kelapa menjadi
Jayakarta terjadi pada hari raya Maulud 12 Rabiulawal tahun 933 H
atau pada hari Senin, 17 Desember 1526. "Perayaan Maulud pada 12
Rabiulawal dianggap baik sekali jika jatuh pada hari Senin. Sebab,
menurut tradisi Islam, Nabi Muhammad lahir dan wafat pada hari
Senin," demikian alasan Hoesein.

Pertanyaan kita sekarang tentunya, benarkah hari lahir Jakarta 22
Juni 1527 sebagaimana pendapat Soekanto? Ataukah 17 Desember 1526
kalau mengikuti tafsiran Hoesein Djajadiningrat? Sebenarnya, pro-
kontra hari lahir Jakarta bukan hanya dilakukan oleh Soekanto-Hoesein
Djajadiningrat. Ahli arkeologi Islam, Ayatrohaedi, pernah menghitung-
hitung seharusnya hari jadi Jakarta adalah Maret 1527.

Tokoh Betawi Ridwan Saidi dalam tulisannya di Suara Pembaruan
beberapa tahun lalu berujar, "Sungguh memilukan nasib penduduk
Jakarta khususnya orang Betawi, hari di mana hak-hak mereka dirampas
oleh kekuatan yang berbau asing (Gujarat) dijadikan sebagai hari jadi
kota mereka".

Dari pernyataannya, tentu Ridwan berkeberatan kalau 22 Juni 1527
menjadi hari lahir Jakarta.

Perdana Menteri RI Ali Sastroamidjojo pada 1956 sewaktu menghadiri
perayaan pertama hari ulang tahun Jakarta, juga merasa terheran-
heran. Adapun Prof Slametmuljana berpendapat, "Belum ada data sejarah
pasti untuk membenarkan salah satu hipotesis tersebut".

Hari lahir Jakarta secara diam-diam terus menuai kontroversi. Tak ada
salahnya kalau berbagai penelitian tentang masa lampau Jakarta
diprioritaskan oleh Pemprov DKI Jakarta dan instansi terkait. Acfd52

Leave a Reply